5hqp69.jpg

Dear Steemians,

Jalan-jalan sore keliling sepanjang Kota Lhokseumawe tepatnya didepan Kantor Telkomsel Lhokseumawe, terlihat di sepanjang pinggir jalan banyak mobil parkir berjejer sepanjang jalan itu. Mereka sedang menunggu Mie Aceh Wak Taleb yang sedang dipersiapkan oleh Wak Taleb di warungnya. Tapi tidak seperti kebanyakan kafe lain yang dipenuhi oleh para remaja dan pemuda, di warung Pak Taleb di penuhi oleh para bapak-bapak, sedang menanti Mie Aceh yang memiliki banyak hal yang menarik.

des60p.jpg

Cita rasa Mie Aceh Wak Taleb yang khas kuliner Aceh Tradisional Lhokseumawe yang telah dibangun sejak tahun 1980 memiliki rasa pedas dengan campuran udang.
Mie Aceh Wak Taleb hampir sama dengan Mie Aceh lainnya yaitu dibuat
menggunakan mie khas berberbentuk tebal dan pipih serta berwarna kuning cerah yang memberi keunikan tersendiri yang membuat selera makan untuk segera mencicipinya. Sementara bumbu Mie Aceh yang digunakan hampir mirip dengan bumbu kari Aceh. Mie Aceh dapat disajikan dalam tiga varian yaitu Mie Goreng, Mie rebus atau mie
kuah dan mie goreng basah, biasanya dalam penyajian untuk menambah kenikmatan cita rasa mie ditambah dengan bawang goreng, kerupuk emping meninjou, mentimun dan jeruk nipis serta saus tomat dan cabe rawit.

4l02bv.jpg

Melihat dari perkembangan Aceh dulu sebagai daerah perdagangan Internasional yang telah maju saat itu, sehingga memberi pengaruh pada kuliner tradisional ini. Pengaruh India membawa kuliner Aceh dengan kuah kari cukup kental ditambah dengan pelengkapnya udang, daging kambing, daging sapi sesuai selera juga dapat ditambah Seafood sesuai letak giografis Aceh yang di kelilingi oleh laut selat Malaka, Samudera Hindia dan Laut Andaman.

kkiir1.jpg

Warung Mie Aceh Wak Taleb di Kota Lhokseumawe yang sudah cukup lama didirikan, masih eksis sampai sekarang yang memiliki cita rasanya yang sangat kuat dan khas menjadikan Mie Aceh Wak Taleb sebagai kuliner tradisional Lhokseumawe, Aceh ini menjadi salah satu kuliner paling dicari oleh para penggemarnya terutama oleh bapak-bapak di Kota Lhokseumawe.


MIE ACEH WAK TALEB TRADITIONAL CULINARY IN LHOKSEUMAWE

Dear Steemians,

Afternoon walks around Lhokseumawe City, precisely in front of the Lhokseumawe Telkomsel Office, can be seen along the roadside, with many cars parked along the road. They are waiting for the Aceh Tal Wak Noodle which is being prepared by Wak Taleb at his stall. But unlike most of the other cafes that are filled with teenagers and young men, the Pak Taleb stall is filled with fathers, waiting for Mie Aceh which has many interesting things.

The taste of Aceh Wak Taleb Noodle which is typical of Lhokseumawe Traditional Aceh culinary which has been built since 1980 has a spicy flavor with shrimp mixture.
Aceh Wak Taleb Noodle is almost the same as other Aceh Noodle which is made
using special noodles shaped thick and flat and bright yellow that gives its own uniqueness that makes appetite to immediately taste it. While the Aceh Noodle spice used is almost similar to the Aceh curry spice. Acehnese noodles can be served in three variants namely Fried Noodles, Boiled Noodles or Noodles
Wet fried noodles and gravy, usually served to add to the enjoyment of the taste of the noodles coupled with fried onions, crackers crackers meninjou, cucumbers and lime and tomato sauce and cayenne pepper.

Seeing from the development of Aceh as an international trade area that has advanced at that time, so that this traditional culinary influence. Indian influence brings Aceh culinary with quite thick curry sauce coupled with complementary shrimp, mutton, beef according to taste can also be added Seafood according to the geographical location of Aceh which is surrounded by the Malacca Strait Sea, Indian Ocean and Andaman Sea.

The Aceh Wak Taleb Noodle Shop in Lhokseumawe City, which has been established for quite a long time, still exists today, which has a very strong and distinctive taste that makes the Aceh Wak Taleb Noodle a traditional cuisine of Lhokseumawe, Aceh has become one of the most sought-after culinary by its fans, especially by fathers in the city of Lhokseumawe.


Lhokseumawe, March 20, 2020.

BY: @almazzhr